INDONESIA RAYA – Seorang petarung tidak mengenal kata lelah. Di arena olah raga tinju, seseorang bisa disebut pecundang saat dia gantung sarung tinjunya.

Padahal potensi menangnya masih ada di pertandingan berikutnya. Kekalahan bisa ditebus dengan rematch. Taktik dan strategi sangat menentukan.

Begitu juga di sepak bola, Real Madrid selalu kalah di leg pertama, melawan PSG, Chelsea, dan Manchester City. Tapi di leg kedua, Real Madrid jawaranya. Impossible is Nothing

Dalam arena politik analoginya juga sama. Walaupun pernah menelan kekalahan dalam Pilpres 2014 dan 2019, Prabowo Subianto bukanlah seorang pecundang jika maju lagi pada pemilu 2024.

Dia justru bermental seorang petarung sejati yang masih percaya diri dengan kapabilitasnya.

Jika Prabowo selalu juara atau berada di tiga besar elektabilitas Capres 2024, itu artinya publik masih ingin dia maju kembali sebagai Capres 2024 karena mantan Danjen Koppasus ini masih ada di hati masyarakat.

Dan ini sama sekali tanpa pencitraan di media plus pasang baliho. Justru aneh kalo elektabilitasnya tinggi tapi malah disuruh mandeg pandhito.

Kecuali tingkat keterpilihannya ada di lantai dasar. Cak Imin (PKB), Puan Maharani (PDIP) dan Airlangga Hartarto (Golkar) yang elektabilitasnya masih rendah saja disupport maju sebagai Capres 2024, kenapa tidak dengan Prabowo Subianto ?

Coba lihat kasus Hilary Clinton yang diprediksi menang melawan Donald Trump yang di bully habis publik AS karena dicemooh tidak mungkin bisa menang.

Bisa ditelusuri selama berbulan-bulan berlangsungnya masa kampanye di negara Paman Sam saat itu.

Hampir semua lembaga survei menunjukkan, Hillary akan memimpin perolehan suara dan melenggang ke Gedung Putih.

Tetapi akhirnya kenyataan berbicara lain. Trump memenangkan pemilihan presiden AS ke-45 (2016).

Bagaimana dengan kans Prabowo Subianto nanti di Pilpres 2024 mendatang? Fakta bahwa yang bisa mengalahkan Prabowo itu cuma Jokowi. Bukan kandidat yang lain.

Jadi sebenarnya mereka juga ada perkiraan bisa kalah sama Menhan RI tersebut jika maju lagi di 2024, karena faktor popularitas dan elektabilitas yang masih mumpuni.

Apalagi sebagai Menteri Pertahanan kinerjanya pun termasuk yang paling baik. Publik itu sudah jenuh dengan pencitraan.

Saat ini, kinerja yang dapat dijadikan tolak ukur penilaian apakah seorang tokoh itu memang pantas untuk maju dalam perhelatan pemilu, bukan alasan yang lainnya.

Publik juga sudah jenuh dengan polarisasi yang semakin tajam. Kasus HRS dan AA bisa dijadikan contoh terjadinya pembelahan masyarakat yang saling caci.

Proporsi pemilih kita ada di tengah. Yang kadrun atau terlalu kadrun lebih suka Anies. Sebaliknya, yang cebong atau terlalu cebong preferensinya ke Ganjar.

Prabowo potensial bisa menjadi jalan tengah untuk meminimalisir segregasi politik.

Prabowo sekarang ini posisinya di tengah yang bisa menstabilkan politik identitas dan SARA, justru karena masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Bisa dibayangkan jika Ganjar atau Anies yang menjadi pemimpin nasional. Saling olok antara ‘cebong’ dan ‘kadrun’ cenderung semakin tajam dan kontrapoduktif bagi bangsa Indonesia.

Sekarang pertanyaan pentingnya:
Apakah Prabowo akan lebih tinggi elektabilitasnya jika masih berada di luar pemerintahan ?

Jawabannya: belum tentu. Menjadi oposisi atau opsi bergabung ke dalam pemerintahan, Prabowo tetap akan menghadapi gelombang kebencian.

Entah itu diisukan sebagai pelanggar ham (2014), anti keberagaman (2019), atau nanti dimainkan isu pengkhianat (2024). Tetapi itu semua omong kosong dan sulit terbukti.

Sama seperti digulirkannya wacana ‘political labelling’ bahwa capres yang tua itu pasti otoriter dan capres yang relatif berusia muda itu pasti demokratis. Ngawur. Belum tentu.

Lalu bagaimana dengan kekecewaan pendukungnya dulu di Pilpres 2019?

Well, kecewa itu lumrah, tetapi pasti ada obatnya. Safari lebaran Prabowo ke Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah salah satu awal dari obatnya.

Seperti melihat gelas setengah kosong. Yang negatif thinking akan memandang setengah kosongnya. Tetapi yang positif akan bersyukur karena terisi air setengah penuhnya.

Realitas menunjukkan bahwa pada kontestasi pemilu semua kandidat yang maju tetap akan didukung oleh komunitas muslim.

Bahkan Jokowi maju di Pilpres 2019 juga dengan strategi menggandeng tokoh NU, Ma’ruf Amin.

Pengalaman dari Pilpres menunjukkan bahwa komunitas pemilih muslim tidak pernah terkonsentrasi pada satu pasangan kandidat saja, tetapi pada semua pasangan calon.

Bahkan pendukung Jokowi yang masih cukup besar juga berpeluang pilihannya bermigrasi kepada Menhan RI ini jika maju lagi di Pilpres 2024.

Prabowo itu justru sosok yang paling tidak disukai oleh oligarki. Bahkan Prabowo malah selalu di jegal oleh oligarki.

Munculnya calon-calon yang sekarang di karbitkan dan tidak memiliki basis yang kuat, justru merupakan makanan empuk bagi oligarki.

Mereka pastinya relatif akan manut seperti kerbau yang dicokok hidungnya, karena relatif tidak punya kapasitas dan bargaining yang kuat.

Oligarki bisa membeli dan mengatur calon-calon yang baru ini (boneka). Mungkin kita bisa menyimak lebih jauh dari kasus reklamasi dan Wadas.

Bisa dibilang, Prabowo itu tokoh yang paling dibenci oleh oligarki. Jadi kalo pun Prabowo itu bisa berjalan diatas air, maka ya tetap aja para haters-nya akan bilang: ….”ahh itu karena dia nggak bisa berenang aja.”

Opini: Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Jakarta.***